Mengapa Banyak Anak yang Obses Untuk Menjadi Kaya Cepat?

Selasa 07-04-2026,16:11 WIB
Reporter : Lala Nabilah Chandra
Editor : Haidaroh

INFORADAR.ID- Era media sosial saat ini memunculkan sebuah tren yang cukup memprihatinkan, yaitu maraknya anak anak di bawah umur yang berlomba lomba membuat konten tentang obsesi menjadi kaya secara instan. 

Fenomena ini mudah ditemukan di berbagai platform, di mana mereka meniru gaya hidup mewah, membuat lelucon tentang uang, atau menyuarakan keinginan untuk segera menjadi miliarder tanpa harus bersusah payah. 

Tren ini mengundang banyak tanda tanya di kalangan orang tua dan pengamat sosial mengenai pergeseran nilai dan pola pikir generasi muda masa kini yang tampaknya semakin jauh dari realita.

Akar utama dari fenomena ini tidak lepas dari paparan konten pamer kekayaan yang terus menerus menyuapi layar ponsel mereka setiap harinya.

BACA JUGA:6 Wakil Indonesia Awali Perjuangan di Badminton Asia Championships 2026

BACA JUGA:Jalan yang Bersuara, Pemimpin yang Dibicarakan

 Banyak pembuat konten dan figur publik di internet yang sering memamerkan barang mewah, liburan eksklusif, atau tumpukan uang dengan narasi kesuksesan di usia muda.

Sayangnya, konten semacam itu sering kali menutupi realita tentang kerja keras, proses panjang, dan kegagalan di baliknya. 

Anak anak yang secara psikologis belum matang untuk menyaring informasi akhirnya menelan mentah mentah ilusi tersebut, lalu menyimpulkan bahwa kekayaan adalah satu satunya tolak ukur kesuksesan yang bisa diraih hanya dengan bermodalkan sensasi di internet.

Selain itu, algoritma media sosial yang serba cepat juga ikut membentuk mentalitas serba instan pada generasi ini.

BACA JUGA:Hari Kesehatan Dunia Jadi Pengingat Pentingnya Menjaga Pola Hidup Sehat

BACA JUGA:Drama Baru Netflix: A Proper Romance Gandeng Park Hyung-sik dan Park Gyu-young

Mereka terbiasa mendapatkan hiburan, perhatian, dan validasi hanya dalam hitungan detik. 

Hal ini secara tidak sadar memengaruhi cara pandang mereka terhadap proses kehidupan di dunia nyata. 

Diperparah dengan minimnya literasi keuangan, banyak anak akhirnya merasa enggan untuk menempuh jalur pendidikan formal atau merintis karier dari bawah karena menganggap hal tersebut membuang waktu. 

Kategori :