Ketika Manusia Menjauh dari Fitrahnya, Tafsir “Wild Life” Karya Wings

Selasa 03-03-2026,17:19 WIB
Reporter : Haidaroh
Editor : Haidaroh

Oleh: Ahmad Sihabudin, Dosen Komunikasi Lintas Budaya

INFORADAR.ID - Lagu Wild Life karya grup Wings, yang digerakkan oleh sensibilitas musikal dan puitik Paul McCartney, bukan sekadar komposisi pop-rock era 1970-an. Ia adalah teks budaya yang menyimpan kegelisahan eksistensial manusia modern: tentang kebebasan yang hilang, keterasingan dari alam, serta ironi peradaban yang mengurung jiwa-jiwa dalam sangkar kenyamanan.

Dengan pendekatan hermeneutika filosofis, membaca teks sebagai horizon makna yang berjumpa dengan pengalaman pembaca, serta dialog dengan pemikiran filsafat Islam, esai ini menafsirkan “Wild Life” sebagai kritik spiritual terhadap modernitas yang mengekang fitrah manusia.

Dari Teks ke Makna Hidup

Hermeneutika, sejak Friedrich Schleiermacher hingga Hans-Georg Gadamer, memandang teks bukan sekadar kumpulan kata, melainkan peristiwa makna. Makna lahir dari pertemuan antara horizon teks dan horizon pembaca. Dalam konteks ini, “Wild Life” dibaca sebagai teks simbolik yang memanggil kesadaran ekologis dan eksistensial. Pertanyaan retoris seperti “Wild life, the animals in the zoo?” bekerja sebagai ironi hermeneutik: apa arti “liar” jika hidup justru dipenjarakan oleh sistem buatan manusia?

Metafora “Wild Life”: Kebebasan yang Terpenjara

Secara literal, wildlife merujuk pada satwa liar. Namun secara simbolik, ia menunjuk pada jiwa manusia yang rindu akan kebebasan otentik. Kebun binatang dalam lirik menjadi metafora peradaban modern: teratur, aman, namun membatasi. Di sinilah hermeneutika menemukan lapisan makna kedua, keterpenjaraan batin. Manusia kota hidup dalam rutinitas, aturan, dan target, kehilangan kontak dengan alam dan dirinya sendiri.

Lirik yang tampak sederhana itu mengandung kritik ontologis: ketika manusia mengklaim kemajuan, justru ia memenjarakan naluri alaminya. Kebebasan yang dimaksud bukan anarki, melainkan keutuhan hidup, keselarasan antara tubuh, jiwa, dan alam.

Fitrah, Alam, dan Kebebasan

Fitrah sebagai “Wild Life” Spiritual, dalam Islam, manusia diciptakan dengan fitrah, kecenderungan alami menuju kebenaran dan kebebasan yang bermakna. Al-Qur’an menegaskan bahwa fitrah ini sering tertutup oleh struktur sosial dan hawa nafsu. Di sini, “Wild Life” dapat dibaca sebagai ratapan fitrah yang teralienasi. Seperti hewan di kebun binatang, manusia kehilangan ruang untuk mengekspresikan hakikatnya.

Pandangan Al-Farabi, manusia adalah makhluk rasional dan sosial. Ia hanya dapat mencapai kebahagiaan sejati (al-sa‘adah) dalam tatanan masyarakat yang berorientasi pada kebaikan. Kebebasan, dalam pandangannya, bukan kebebasan liar tanpa arah, tetapi kebebasan yang dituntun oleh akal dan tujuan etis.

Dalam konteks “Wild Life”, kritiknya bukan pada peradaban itu sendiri, melainkan pada peradaban yang kehilangan tujuan kebahagiaan hakiki. Kebun binatang menjadi metafora negara atau kota modern: tertib, efisien, namun kosong makna.

Al-Farabi akan membaca lagu ini sebagai peringatan: Ketika tatanan sosial hanya mengejar stabilitas dan kemakmuran material, manusia akan hidup seperti hewan jinak, selamat, tetapi tidak bahagia.

Dengan demikian, “kembali ke alam” bukan berarti menolak kota, melainkan mengembalikan orientasi hidup pada kebajikan dan makna.

Ibn Sina memandang jiwa manusia sebagai substansi immaterial yang berasal dari alam tinggi dan merindukan kesempurnaan. Hidup di dunia adalah fase keterpisahan (ghurbah). Jika manusia terlalu larut dalam materi, ia lupa pada asal-usul spiritualnya.

Dalam tafsir Ibn Sina, “Wild Life” menggambarkan jiwa yang terasing dari rumahnya. Kota modern, dengan segala fasilitasnya, adalah kebun binatang bagi jiwa: tubuh terawat, tetapi ruh merana.

Kategori :