Dasar Anjuran Itikaf
Anjuran itikaf pada sepuluh malam terakhir Ramadan bersumber dari hadis Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.
Dalam riwayat itu dijelaskan bahwa Rasulullah SAW rutin beritikaf setiap Ramadan di akhir bulan.
Kebiasaan tersebut menjadi teladan bagi umat Islam untuk menghidupkan sunnah dengan memperbanyak ibadah. Itikaf juga dianggap sebagai sarana untuk lebih fokus beribadah dan menjauhkan diri dari kesibukan dunia.
Selain itu, banyak jamaah memanfaatkan itikaf untuk memperbanyak doa dan memohon ampunan.
Amalan yang dilakukan umumnya meliputi salat sunnah, membaca Al-Qur’an, berzikir, serta melakukan introspeksi diri.
Tujuan dan Keutamaan Itikaf
Tujuan utama itikaf adalah membantu seorang Muslim lebih dekat kepada Allah SWT dengan menghabiskan waktu di masjid untuk beribadah.
Dengan membatasi aktivitas di luar kepentingan spiritual, kekhusyukan selama Ramadan dapat lebih terjaga.
Di samping bernilai ibadah tinggi, itikaf juga diyakini sebagai salah satu cara mempersiapkan diri menyambut malam Lailatul Qadar, yang keutamaannya disebut lebih baik dari seribu bulan.
Karena itu, banyak orang meningkatkan intensitas ibadah pada malam-malam terakhir Ramadan.
Tak heran jika sepuluh malam terakhir menjadi waktu paling ramai untuk itikaf di berbagai masjid. Bahkan, sejumlah pengurus masjid menyediakan fasilitas tambahan bagi jamaah yang ingin beritikaf lebih lama.
Ketentuan Melaksanakan Itikaf
Dalam praktiknya, itikaf wajib dilakukan di masjid dengan niat semata-mata beribadah kepada Allah SWT.
Selama menjalankannya, jamaah dianjurkan memperbanyak amalan dan mengurangi aktivitas yang tidak berkaitan dengan tujuan spiritual.
Peserta itikaf biasanya membawa perlengkapan pribadi agar lebih nyaman selama berada di masjid.