INFORADAR.ID - Istora Senayan malam itu bukan sekadar riuh oleh sorak-sorai atau gemerlap lampu panggung.
Di tengah megahnya konser "KOMA", Mahalini membawa kita semua masuk ke ruang paling privat di sudut hatinya.
Di balik gaun anggun dan suara emasnya, ada sebuah luka lama yang ia simpan rapat: kerinduan pada mendiang sang ibu.
Namun, malam itu, ia memilih untuk tidak lagi merindu sendirian, melainkan merayakan kehadiran sosok yang paling berarti dalam hidupnya lewat sebuah pertemuan yang tak terduga.
Suasana mendadak hening saat panggung yang tadinya megah berubah menjadi syahdu. Lewat sentuhan teknologi AI yang begitu halus, sosok sang ibu tiba-tiba hadir, berdiri tegak tepat di samping Mahalini.
Bukan sekadar proyeksi visual biasa, namun kehadiran itu terasa begitu "hidup" hingga membuat Mahalini tak kuasa menahan tangisnya di tengah melodi. Di momen itulah, ribuan penonton ikut terdiam, menyaksikan bagaimana teknologi yang sering dicap dingin justru mampu menjadi perantara paling hangat untuk menjembatani dua dunia yang berbeda.
Pertemuan singkat namun bermakna itu menjadi bukti bahwa musik Mahalini bukan hanya soal nada, tapi juga tentang kejujuran rasa.
Ia berhasil mengubah sebuah pertunjukan komersial menjadi sebuah penghormatan emosional yang menyentuh jiwa.
Penonton tidak hanya disuguhi kualitas vokal yang mumpuni, tetapi juga diajak menyelami arti kehilangan dan bagaimana cara kita tetap merangkul memori orang tersayang meski raga tak lagi ada di sisi.
Keajaiban Teknologi dalam Dekapan Rasa Panggung "KOMA" akhirnya menjadi pengingat bagi siapa pun yang hadir: bahwa cinta memang tak pernah benar-benar mati, ia hanya berpindah tempat ke dalam kenangan.
Kehadiran virtual sang ibu bukan sekadar pamer kecanggihan teknis, melainkan bentuk penyembuhan bagi hati Mahalini yang selama ini mendambakan restu langsung di atas panggung besarnya.
Malam itu, Mahalini tidak menutup konsernya sebagai seorang bintang saja, tapi sebagai seorang anak yang akhirnya berhasil melepas rindu dalam sebuah pelukan cahaya yang abadi.
Andrea Kesya Tindas Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Mathla'ul Anwar Banten