Kupu-Kupu Kertas: Ketika Cinta dan Ideologi Tak Pernah Benar-Benar Netral

Kamis 05-02-2026,18:15 WIB
Reporter : Haidaroh
Editor : Haidaroh

INFORADAR.ID - Film Kupu-Kupu Kertas menghadirkan potret getir tentang cinta yang tumbuh di tengah konflik ideologi dan luka sejarah bangsa.

Berlatar Indonesia pada era pergolakan politik 1960-an, film ini tidak sekadar menyuguhkan kisah romansa, melainka juga mengajak penonton menyelami dampak ideologi terhadap kehidupan manusia paling personal: perasaan, keluarga, dan pilihan hidup.

Tokoh utama dalam film ini digambarkan sebagai dua insan yang saling mencintai, namun terjebak dalam arus politik yang saling berseberangan. Cinta mereka tumbuh secara alami, sederhana, bahkan polos—seperti kupu-kupu kertas yang rapuh namun indah.

Sayangnya, realitas sosial dan stigma ideologi membuat hubungan tersebut nyaris mustahil untuk bertahan tanpa pengorbanan.

Keunggulan Kupu-Kupu Kertas terletak pada keberaniannya menempatkan konflik politi bukan sebagai pusat cerita, melainkan sebagai latar yang terus menghantui kehidupan tokoh-tokohnya.

Penonton tidak dipaksa memilih pihak, melainkan diajak memahami bahwa dalam konflik besar, selalu ada manusia biasa yang menjadi korban. Mereka bukan tokoh sejarah, bukan pula pengambil keputusan, tetapi merekalah yang menanggung akibatnya paling lama.

Dari sisi visual dan penokohan, film ini menampilkan suasana yang muram namun intim. Ekspresi para pemain lebih banyak berbicara daripada dialog panjang. Kesunyian, tatapan ragu, dan jarak emosional antartokoh menjadi bahasa yang kuat untuk menggambarka ketakutan dan ketidakpastian pada masa itu.

Lebih dari sekadar film sejarah atau romansa, Kupu-Kupu Kertas adalah pengingat bahwa ideologi—sekuat apa pun—tidak pernah sepenuhnya hitam dan putih ketika berhadapan dengan kemanusiaan.

Film ini mengajak kita merenung: sampai sejauh mana keyakina boleh mengorbankan cinta, dan apakah luka masa lalu harus terus diwariskan pada generasi berikutnya?

Pada akhirnya, Kupu-Kupu Kertas bukan tentang siapa yang benar atau salah, melainkan tentang betapa rapuhnya manusia saat sejarah menuntut mereka memilih, padahal yang mereka inginkan hanyalah hidup dan mencintai dengan tenang.

 

Fikri Habib Hassar Maldya Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Mathla’ul Anwar

Kategori :