Maryam Marissa -Istimewa -
Momen dramatis kembali terjadi saat ia melamar menjadi penyiar di Ramaloka FM. Hari pertama, ia ditolak mentah-mentah oleh manajer setempat. Ia menangis di depan pagar, meratapi nasib yang seolah tak kunjung berpihak. Namun, keajaiban lahir dari kegigihan. Esok harinya ia kembali, memaksa sang manajer setidaknya menerima CV miliknya. Kegigihan itu berbuah manis; keesokan harinya ia dipanggil untuk training.
Perjalanannya sebagai penyiar di berbagai radio (Ramaloka, Megaswara, PBS FM) serta menjadi konsultan asuransi di Jakarta menjadi "mesin" utama untuk membiayai kuliahnya hingga meraih gelar sarjana.
Pada Oktober 2015, Maryam memberanikan diri mendirikan Prestasi Private Indonesia. Modal awalnya bukan uang melimpah, melainkan keyakinan. Di masa-masa awal merintis, ia sering menahan lapar dan menahan diri untuk tidak membeli barang-barang bagus demi biaya operasional lembaga.
"Saya melihat teman-teman pakai HP terbaru dan baju bagus, saya tidak. Saya tunda semua keinginan itu," ujarnya.
BACA JUGA:KOPMA Expo 2025 UIN SMH Banten, Dorong Regulasi Pendidikan Ekonomi Koperasi Sejak Dini
Dari hanya memiliki 7 orang pengajar, kini lembaga yang ia bangun telah menaungi lebih dari 200 tutor di seluruh Banten. Kerja kerasnya pun diakui secara resmi oleh Pemerintah Provinsi Banten melalui penghargaan bergengsi yang diberikan langsung oleh Gubernur Andra Soni.
Kini, Maryam sudah bisa membeli apa yang dulu hanya ada dalam mimpinya. Ia telah merenovasi rumah orang tua dan memiliki kantor sendiri. Namun, ia merasa perjuangannya belum usai. Baginya, sukses bukan sekadar angka di rekening, melainkan realisasi dari rencana yang telah dicatat.
"Ekspektasi tanpa aksi adalah halusinasi," tegasnya. Pesannya bagi anak muda sederhana namun mendalam: jangan pernah takut gagal, karena setiap rintangan adalah kurikulum terbaik dalam sekolah kehidupan.