Mengakap Filosofi Hidup Pelajar Banten di Atas Papan Catur

Mengakap Filosofi Hidup Pelajar Banten di Atas Papan Catur

Catur-Pexels-

INFORADAR.ID – Papan catur warna hitam dan putih itu tak hanya jadi ajang adu strategi, tapi juga ruang perenungan. Pemandangan ini terlihat saat 54 pelajar tingkat SLTA/sederajat dari berbagai daerah di Banten berkumpul di Multifunction Hall Kampus 2 UIN Sultan Maulana Hasanuddin (SMH) Banten, Kota Serang, pada Kamis (15/10/2026).

Para siswa beradu ketangkasan berpikir dalam gelaran Turnamen Catur Piala Rektor UIN SMH Banten yang dihelat untuk memeriahkan Momen Dies Natalis ke-64 kampus setempat. Namun, di balik sengitnya persaingan, ada pesan mendalam yang terselip.

Bidak Pion dan Pentingnya Sosok Pendamping

Hadir untuk membuka acara secara langsung, Wakil Gubernur Banten, Achmad Dimyati Natakusumah, membagikan sudut pandang unik mengenai olahraga otak ini. Bagi Wagub Dimyati, catur menyimpan filosofi hidup yang sangat dekat dengan dinamika anak muda.

BACA JUGA:Pembinaan Sepak Bola Usia Muda Jadi Kunci Menyiapkan Generasi Baru Timnas

BACA JUGA:Kiandra Ramadhipa Akhiri Musim di Posisi Lima Klasemen Moto3 Junior 2026

"Kalau kita bermain catur, filosofinya dalam sekali. Catur mengajarkan kita untuk saling menjaga dan saling mendukung dalam setiap langkah guna mencapai tujuan," ungkap Wagub Dimyati.

ia menganalogikan bidak pion sebuah langkah kecil yang tampaknya sederhana sebenarnya membutuhkan perlindungan dan pendampingan agar bisa bertahan. Jika dijaga dan diarahkan dengan strategi yang tepat, bidak paling kecil itu bahkan bisa berubah (promosi) menjadi buah catur yang jauh lebih kuat.

"Ini sama seperti generasi muda yang membutuhkan mentor, pendamping, dan pelindung agar mereka dapat mencapai cita-cita," tambahnya.

BACA JUGA:Debut di Sinetron Televisi, Jefri Nichol Tantang Diri dan Akui Sulit Atur Emosi

BACA JUGA:Beda Agama dan Beda Alam, Film Piye To Kih? Tawarkan Kisah Cinta Absurd yang Bikin Penasaran

Belajar Hati-Hati, Tak Boleh Mengorbankan TemanTak cuma soal pendampingan, permainan catur juga mendidik para peserta untuk melatih kesabaran. Di atas papan 64 petak itu, satu langkah ceroboh bisa berakibat fatal untuk pertahanan secara keseluruhan.   Pesan moralnya jelas: kehidupan nyata pun menuntut kehati-hatian dalam mengambil keputusan.

"Dalam permainan catur, jika salah melangkah akan berdampak buruk, dan ini sama halnya dengan kehidupan. Kita harus memikirkan setiap langkah agar berkelanjutan. Catur mengajarkan kita untuk tidak mengorbankan satu sama lain, karena kita tidak bisa berjalan sendirian," tutup Dimyati.

Lewat turnamen ini, para pelajar di Banten tak sekadar pulang membawa piala atau pengalaman bertanding, melainkan juga bekal pelajaran berharga bahwa untuk sukses dan menang, kita harus saling menjaga, mendukung, dan melangkah bersama-sama.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait