Tekanan Meningkat, Keluarga Pejabat Iran yang Studi dan Bekerja di AS Mulai Diusir
Gelombang pengusiran keluarga pejabat Iran di Amerika Serikat kian meluas!--
INFORADAR.ID – Gelombang pengetatan tindakan terhadap warga negara asing yang terhubung dengan elite penguasa Iran semakin meluas di Amerika Serikat.
Sejumlah anak dan anggota keluarga pejabat senior Iran yang tengah menuntut ilmu maupun mengajar di institusi pendidikan bergengsi AS kini mulai dipecat, diusir, hingga menghadapi deportasi dari negara tersebut.
Tindakan tegas ini salah satunya dialami oleh Dr. Fatemeh Ardeshir-Larijani, putri dari mendiang petinggi Garda Revolusi Iran Ali Larijani. Fatemeh resmi diberhentikan dari jabatannya sebagai asisten profesor di Sekolah Kedokteran Universitas Emory, Atlanta, usai munculnya desakan keras dari Anggota Kongres AS Buddy Carter serta petisi publik di platform Change.org yang ditandatangani lebih dari 156.000 orang.
Pihak berwenang AS kemudian mengusir Fatemeh beserta suaminya, Seyed Kalantar Motamedi, sebagai bagian dari kampanye pengawasan ketat terhadap individu yang memiliki keterkaitan dengan rezim Teheran pasca-eskalasi serangan udara AS terhadap Iran.
Fenomena serupa juga berdampak pada deretan akademisi keturunan elite Iran lainnya yang menduduki posisi strategis di universitas-universitas terkemuka Amerika Serikat.
Putri dari mantan Presiden Iran Mohammad Khatami, Leila Khatami, yang menjabat sebagai profesor matematika di Union College, New York, dilaporkan telah dihapus profil akademisnya dari situs resmi kampus.
Langkah pembersihan dan evaluasi izin tinggal ini dipicu oleh kekhawatiran para pengamat keamanan serta komunitas pembangkang Iran di AS mengenai potensi risiko keamanan nasional dan infiltrasi ideologi.
Pemerintah AS menegaskan tidak akan memberikan ruang atau toleransi bagi pihak-pihak yang terafiliasi dengan rezim anti-Amerika untuk tetap menetap di wilayahnya.
Tekanan serupa juga menyasar akademisi lain seperti Ehsan Nobakht, Profesor Madya Kedokteran di Universitas George Washington yang merupakan putra mantan anggota parlemen Iran Ali Nobakht, serta Eissa Hashemi, putra mantan Wakil Presiden Iran Masoumeh Ebtekar.
Fenomena ini mempertegas bahwa gelombang ketegangan geopolitik pasca-serangan militer tidak hanya berimbas pada hubungan diplomatik formal, tetapi juga memicu pembersihan total terhadap akses fasilitas pendidikan tinggi dan karier profesional keturunan elite Iran di kawasan Barat.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: