Jangan Keliru, Ini Beda Keracunan dan Alergi Makanan Menurut Dokter Anak
Sering dianggap sama, ternyata keracunan dan alergi makanan adalah dua kondisi yang sangat berbeda!--
INFORADAR.ID – Keracunan dan alergi makanan kerap dianggap serupa karena sama-sama menimbulkan gangguan kesehatan setelah seseorang mengonsumsi makanan.
Berdasarkan laporan dari TIMES Indonesia, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menegaskan bahwa kedua kondisi tersebut memiliki pemicu dan mekanisme biologis yang jauh berbeda.
Ketua UKK Emergensi dan Terapi Intensif Anak IDAI, Dr. Yogi Prawira, menjelaskan bahwa keracunan makanan terjadi akibat konsumsi makanan atau air yang terkontaminasi bakteri, virus, parasit, atau bahan kimia.
Karena bersumber dari makanan tercemar, keracunan dapat menimpa siapa saja yang menyantap hidangan tersebut dan berpotensi menimbulkan wabah, dengan gejala umum seperti mual, muntah, diare, hingga demam yang muncul beberapa jam hingga dua hari kemudian.
Sebaliknya, alergi makanan merupakan reaksi sistem kekebalan tubuh terhadap protein tertentu dalam makanan dan hanya dialami oleh individu yang sensitif.
Reaksinya muncul lebih cepat, mulai dari hitungan menit hingga jam, dengan gejala khas berupa gatal, biduran, pembengkakan bibir atau mata, hingga sesak napas. Reaksi alergi bersifat individual sehingga tidak menular maupun memicu kejadian luar biasa.
Pemahaman mengenai perbedaan ini sangat penting agar masyarakat tidak keliru dalam mengidentifikasi gejala dan memberikan pertolongan pertama.
Kesalahan dalam mengenali penyebab gangguan pencernaan atau Reaksi tubuh dapat berakibat pada keterlambatan penanganan medis yang sesuai, terutama pada kasus alergi berat (anafilaksis) maupun dehidrasi akibat keracunan.
IDAI turut menyoroti bahwa anak dan remaja menjadi kelompok yang paling rentan mengalami dampak fatal dari keracunan makanan. Data BPOM 2024 menunjukkan bahwa 42,96 persen dari kasus keracunan obat dan makanan terjadi pada rentang usia 12 hingga 25 tahun, yang disebabkan oleh belum matangnya saluran pencernaan serta sistem imun mereka.
Oleh karena itu, pengawasan terhadap kebersihan pengolahan serta penyajian makanan di lingkungan sekolah dan keluarga perlu terus ditingkatkan. Edukasi mengenai Higiene sanitasi pangan menjadi langkah preventif utama untuk menekan risiko keracunan makanan secara massal.
Ke depannya, peningkatan kesadaran masyarakat akan perbedaan alergi dan keracunan diharapkan dapat meminimalisasi fatalitas akibat salah penanganan. Langkah awal yang tepat di tingkat keluarga akan sangat membantu efektivitas tindakan medis yang diberikan oleh tenaga kesehatan.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: