Bukan Sekadar Angka, Ini Arti Desil 1–10 dalam DTSEN dan Cara Menentukannya
Ini Arti Desil 1–10 dalam DTSEN--
INFORADAR.ID - Istilah desil dalam Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN) belakangan ramai diperbincangkan karena berkaitan dengan pemetaan kesejahteraan masyarakat. Namun, Badan Pusat Statistik (BPS) menegaskan bahwa angka desil bukan berarti ukuran langsung dari pendapatan, kekayaan, atau status ekonomi sebuah keluarga.
DTSEN sendiri menjadi salah satu rujukan pemerintah dalam merencanakan, menentukan sasaran, hingga mengevaluasi berbagai program. Di dalamnya, keluarga dikelompokkan berdasarkan posisi relatif tingkat kesejahteraannya, mulai dari desil 1 sebagai kelompok dengan tingkat kesejahteraan relatif paling rendah hingga desil 10 sebagai kelompok dengan tingkat kesejahteraan relatif paling tinggi.
Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti menjelaskan bahwa angka desil menunjukkan posisi suatu keluarga dibandingkan keluarga lainnya berdasarkan berbagai karakteristik sosial ekonomi. Karena itu, satu angka desil tidak bisa langsung diterjemahkan sebagai kondisi ekonomi secara keseluruhan.
“Karena itu, angka desil perlu dipahami sebagai gambaran posisi relatif dalam pemeringkatan kesejahteraan, bukan sebagai ukuran tunggal kondisi ekonomi suatu keluarga,” kata Amalia dalam keterangannya, dikutip Sabtu (22/8/2026).
Dengan kata lain, keluarga yang berada di desil 3 merupakan keluarga yang masuk kelompok ketiga dari 10 kelompok dalam pemeringkatan kesejahteraan relatif. Namun, keluarga yang sama-sama berada di desil 3 belum tentu memiliki pendapatan, pengeluaran, aset, maupun kondisi sosial ekonomi yang identik.
BACA JUGA:Anggaran Pendidikan 2027 Tembus Rp820,9 Triliun, Naik Rp100 Triliun
BPS juga menegaskan bahwa penentuan desil tidak hanya melihat penghasilan. Kondisi rumah, sumber air minum, bahan bakar memasak, kepemilikan aset, penggunaan listrik, komposisi keluarga, pendidikan, pekerjaan, kesehatan, hingga kondisi disabilitas ikut diperhitungkan dalam pemeringkatan.
Berbagai karakteristik tersebut kemudian dianalisis secara bersama menggunakan metode statistik Proxy Means Test (PMT).
Metode ini digunakan untuk memperkirakan posisi kesejahteraan keluarga berdasarkan karakteristik yang dapat diamati, terutama ketika informasi pendapatan atau konsumsi rumah tangga sulit diperoleh maupun diverifikasi secara lengkap.
“Karena menggunakan kombinasi berbagai karakteristik, satu kondisi atau satu indikator saja tidak dengan sendirinya menentukan posisi desil suatu keluarga,” lanjut Amalia.
Pendekatan PMT sendiri merupakan salah satu metode yang juga digunakan secara internasional untuk kebutuhan pemetaan kesejahteraan.
BACA JUGA:SEFAS Group Resmi Akuisisi 100 Persen Bisnis SPBU Shell di Indonesia
BACA JUGA:Bromo Dibuka Lagi, Usai Kebakaran 1.121 Hektare Warga Diminta Tak Lengah
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: