Graduation Blues Setelah Wisuda, Kenapa Lulusan Baru Bisa Merasa Kehilangan Arah?
Graduation Blues Setelah Wisuda--
INFORADAR.ID - Wisuda yang selama ini dibayangkan sebagai garis akhir perjuangan kuliah justru bisa menjadi awal fase yang penuh tanda tanya bagi sebagian lulusan. Setelah euforia toga dan ijazah berlalu, sebagian anak muda harus menghadapi realitas mencari kerja, tuntutan mandiri secara finansial, hingga tekanan melihat pencapaian teman sebaya di media sosial.
Fenomena tersebut kerap disebut graduation blues atau post-graduation depression. Mengutip PsychCentral dan data penelitian Substance Abuse and Mental Health Services Administration (SAMHSA), kondisi setelah kelulusan dapat disertai rasa takut, cemas, kecewa, atau kehilangan semangat ketika kehidupan setelah kampus tidak berjalan sesuai ekspektasi.
Ekspektasi untuk langsung mendapatkan pekerjaan impian setelah lulus menjadi salah satu tekanan yang dirasakan lulusan baru. Ketika lamaran kerja belum mendapat respons atau pekerjaan yang diperoleh belum memberikan penghasilan sesuai harapan, seseorang dapat mempertanyakan kemampuan dan pencapaiannya sendiri.
Kondisi tersebut juga dapat muncul ketika lulusan masih bergantung kepada orang tua. Keinginan untuk segera mandiri terkadang berbenturan dengan kenyataan bahwa membangun karier dan kondisi finansial membutuhkan waktu.
Pengalaman itu turut dirasakan Fahmi, pemuda asal Serang yang merupakan lulusan UIN Banten. Menurutnya, masa setelah lulus memang dapat membuat seseorang merasa kehilangan arah karena rutinitas perkuliahan yang sebelumnya terstruktur tiba-tiba berubah.
BACA JUGA:Dari Pangan Desa ke FYP, Kimpul Mendadak Viral
BACA JUGA:Gen Z Mulai Lirik Profesi Blue-Collar di Tengah Ancaman AI, Gajinya Bisa Tembus Rp5 Miliar
“Setelah lulus itu rasanya memang beda. Dulu ada jadwal kuliah dan tugas yang jelas, sekarang harus menentukan sendiri mau ke mana. Apalagi kalau sudah kirim CV tapi belum ada panggilan, kadang jadi kepikiran,” ujar Fahmi.
Tanda-tanda yang perlu diperhatikan antara lain rasa sedih atau kosong yang terus berlangsung, pesimisme, kecemasan, kesulitan mengambil keputusan, hingga kehilangan minat terhadap aktivitas yang sebelumnya disukai. Perubahan pola tidur dan makan juga dapat menjadi tanda yang perlu diperhatikan.
Namun, istilah graduation blues sebaiknya tidak digunakan untuk mendiagnosis diri sendiri. Setiap orang memiliki proses adaptasi yang berbeda setelah lulus. Jika perasaan tersebut menetap atau mengganggu kehidupan sehari-hari, berkonsultasi dengan tenaga profesional dapat menjadi langkah yang tepat.
Tekanan setelah wisuda juga bisa datang dari kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain. Media sosial sering memperlihatkan teman sebaya yang sudah bekerja, mendapatkan penghasilan, atau mencapai target tertentu sehingga kehidupan sendiri terlihat tertinggal.
Fahmi menilai media sosial bisa memberikan dua sisi bagi lulusan baru. Selain menjadi tempat mencari informasi pekerjaan dan membangun koneksi, terlalu sering melihat pencapaian orang lain juga dapat membuat seseorang lupa bahwa setiap orang memiliki waktu dan jalur karier yang berbeda.
BACA JUGA:Kenapa Gen Z Sering Bilang “Chat Aja”? Ini 5 Alasan Mereka Lebih Nyaman Texting daripada Telepon
BACA JUGA:Gajian Bukan Cuma Buat Bayar Tagihan, Ini Alasan Gen Z Suka Self-Reward Setelah Terima Gaji
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: