Semakin Sering Terjadi Bencana Alam, Indonesia Memasuki Fase Krisis Iklim
Bencana banjir-BPBD kota Banda Aceh-
INFORADAR.ID - Frekuensi cuaca ekstrem yang semakin meningkat tiap tahunnya di Indonesia menandakan sinyal kuat bahwa dampak perubahan iklim semakin nyata adanya. Banjir, kekeringan, gelombang panas, hingga kebakaran hutan kini semakin sering terjadi dan berdampak luas terhadap kehidupan masyarakat, ekonomi, serta ketahanan pangan nasional.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan perubahan iklim telah meningkatkan peluang terjadinya cuaca ekstrem di berbagai wilayah Indonesia. Kenaikan suhu permukaan bumi memengaruhi pola curah hujan, sehingga musim hujan maupun kemarau menjadi semakin sulit diprediksi. Perubahan tersebut meningkatkan risiko banjir di satu daerah dan kekeringan di daerah lainnya.
Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat bahwa bencana hidrometeorologi seperti bencana tanah longsor, banjir, cuaca ekstrem dan kekeringan masih sangat mendominasi kejadian bencana di Indonesia setiap tahunnya.
BACA JUGA:LinkedIn Diselidiki Gegara Dugaan “Ghost Jobs”, Lowongan Kerja Palsu Bikin Pencari Kerja Resah
BACA JUGA:BGN Larang Dapur MBG Pakai Gas Melon, MinyaKita, dan Beras SPHP, Ada Sanksi Tegas
Banyaknya kondisi bencana alam yang diakibatkan iklim menjadi tantangan besar bagi Indonesia dan menjadi upaya yang harus gencar dilakukan dalam meminimalisir resiko yang ada.
Laporan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) juga menegaskan bahwa kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia, merupakan salah satu wilayah yang rentan terhadap dampak perubahan iklim. Peningkatan suhu global diproyeksikan memperbesar risiko cuaca ekstrem, penurunan produktivitas pertanian, serta kenaikan permukaan air laut yang mengancam wilayah pesisir.
Selagi masih belum terlambat seudah sepatutnya Indonesia melakukan perkuatan insfratruktur tahan iklim, pengelolaan sumber daya air, rehabilitasi hutan dan mengrove, serta pengembangan sistem peringatan dini berbasis teknologi. Dengan melakukan langkah tersebut dinilai mampu mengurangi dampak bencana sekaligus melindungi masyarakat yang berada di wilayah rawan.
BACA JUGA:Sakatonik ABC Peringati Hari Anak Nasional Melalui Gerakan Makan Tanpa Drama
BACA JUGA:HMPS KPI 2026 Gelar Go to School (GTS), Edukasi Media Digital dan Anti-Bullying
Di sisi lain, upaya mitigasi juga harus terus dipercepat melalui pengurangan emisi gas rumah kaca, percepatan transisi menuju energi terbarukan, dan peningkatan kualitas pengelolaan lingkungan. Keterlibatan pemerintah, dunia usaha, akademisi, dan masyarakat menjadi faktor penting agar target penurunan emisi nasional dapat tercapai.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: