Belajar dari Masyarakat, KKN Jadi Ruang Tumbuh Mahasiswa di Desa Kadugemblo

Belajar dari Masyarakat, KKN Jadi Ruang Tumbuh Mahasiswa di Desa Kadugemblo

Kelompok 50 Kukerta UIN SMH BANTEN Bersama Anak-anak SDN Kadugemblo 2.--

INFORADAR.ID – Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 50 UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten di Desa Kadugemblo, Kecamatan Kaduhejo, Kabupaten Pandeglang, menjadi pengalaman yang lebih dari sekadar menjalankan program kerja.

Selama 40 hari, 15 mahasiswa belajar hidup bersama masyarakat sekaligus memahami makna pengabdian secara langsung.

Kehidupan di posko dimulai dari hal-hal sederhana. Setiap hari anggota bergiliran piket memasak dan membersihkan rumah, sementara setiap Minggu mereka mengadakan kerja bakti bersama.

Di luar itu, seluruh anggota membiasakan diri menyapa dan bertegur sapa dengan warga sebagai bentuk pendekatan agar hubungan dengan masyarakat semakin akrab.

Ketua Kelompok KKN 50, Dimas Farhan Wiguna, mengatakan bahwa kegiatan yang disusun tidak hanya berorientasi pada pelaksanaan program, tetapi juga disesuaikan dengan kebiasaan masyarakat agar kehadiran mahasiswa benar-benar dirasakan.

"Kami nggak mau datang cuma buat menjalankan program terus pulang. Makanya kami ikut membaur, mulai dari ngobrol sama warga sampai ikut kegiatan yang memang sudah jadi kebiasaan di desa," ujarnya.

Menurut Dimas, mahasiswa laki-laki rutin mengikuti tahlilan ketika ada warga yang meninggal, sedangkan mahasiswa perempuan aktif mengajar mengaji setiap selesai salat Magrib.

Ia menilai pendekatan tersebut membuat masyarakat lebih terbuka dan antusias mengikuti berbagai kegiatan yang diadakan mahasiswa.

"Kalau kita ikut kegiatan mereka dulu, warga juga jadi lebih terbuka buat ikut kegiatan yang kita buat. Jadi semuanya terasa lebih dekat," tambahnya.

Selain belajar mengabdi, mahasiswa juga dituntut mandiri selama tinggal jauh dari keluarga. Mereka belajar mencuci pakaian sendiri, membuat jemuran sederhana di posko, hingga membiasakan bangun sebelum subuh untuk salat berjamaah di masjid.

Salah satu anggota kelompok, Irfan Khaeruji, mengaku KKN mengubah kebiasaannya yang sering bangun siang. Ia mengatakan rutinitas di desa membuatnya lebih disiplin dalam mengatur waktu.

Menurut Irfan, pengalaman hidup bersama teman satu posko juga mengajarkan pentingnya saling memahami dan bekerja sama meski memiliki karakter yang berbeda.

"Jujur awalnya berat buat bangun subuh tiap hari, apalagi aku memang sering bangun siang. Tapi lama-lama jadi kebiasa dan malah ngerasa lebih produktif," katanya.

"Yang paling berharga itu bukan cuma program kerjanya, tapi pelajaran hidupnya. Di sini kita belajar mandiri, saling ngertiin teman, dan benar-benar ngerasain hidup bareng masyarakat," tutup Irfan.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait