Dolar Mencapai 18 Ribu, Warga Desa Ikut Terkena Dampak

Dolar Mencapai 18 Ribu, Warga Desa Ikut Terkena Dampak

Lonjakan harga kedelai impor akibat nilai tukar dolar AS -sumber: Pinterest/bloghowtogrowtaller-

INFORADAR.ID — Lonjakan harga kedelai impor akibat nilai tukar dolar AS yang menembus angka Rp18.000 memaksa pengrajin tempe di Kampung Ciluar, Sukaraja, Kabupaten Bogor, untuk memangkas volume produksi harian mereka. Siasat ini terpaksa diambil sebagai langkah darurat guna menekan potensi kerugian yang kian hari kian membengkak.

Kondisi tersebut dipicu oleh biaya operasional yang melambung tinggi, sementara harga jual tempe di pasaran masih stagnan alias belum bisa dinaikkan. Karena kedelai impor masih menjadi bahan baku mutlak, memproduksi tempe dalam jumlah minim menjadi satu-satunya cara bagi industri rumahan ini untuk bisa bertahan hidup.

Jika Dolar terus meningkat dan Rupiah semakin melemah, para pelaku usaha mikro ini terancam gulung tikar karena kehabisan modal. Menanggapi pembengkakan biaya yang kian mencekik usaha kecil di Kabupaten Bogor tersebut, Japar, salah satu pengrajin setempat, membeberkan rincian kerugiannya.

“Kalau dulu harga kedelai sekitar Rp10 ribu per kilogram, sekarang sudah mencapai Rp11.500 per kilogram. Tentu sangat berpengaruh terhadap biaya produksi,” ujar Japar, Senin (8/6/2026).

Lonjakan Dolar yang membuat harga kedelai impor merangkak naik dari Rp10.000 menjadi Rp11.500 hingga Rp12.000 per kilogram memaksa para pengrajin di desa untuk memangkas jumlah pengolahan bahan baku mereka secara drastis.

Penurunan volume produksi ini terpaksa dilakukan sebagai strategi bertahan guna menghemat modal kerja mereka yang kian menipis akibat tingginya biaya pembelian bahan baku tersebut.

Japar mengungkapkan bahwa pembengkakan modal para pengrajin juga dipicu oleh naiknya harga bahan baku pendukung logistik. Salah satunya adalah plastik kemasan, yang harganya melonjak drastis dari Rp17.000 menjadi Rp26.000 per ikat dan kian menyulitkan operasional usaha.

“Biasanya sehari bisa enam sampai tujuh kuintal, sekarang paling sekitar lima kuintal karena harga bahan baku terus naik,” kata Japar.

Selain mengurangi volume produksi harian, para pengrajin juga menyiasati keadaan dengan memperkecil dimensi atau ketebalan tempe yang dipasarkan. Langkah pengurangan ukuran ini sengaja diambil agar harga jual di pasar-pasar tradisional tidak perlu naik, sehingga tetap bertahan di angka Rp5.000 untuk ukuran kecil dan Rp6.000 untuk ukuran besar.

Menurut Japar, strategi tersebut menjadi satu-satunya solusi paling aman saat ini demi menjaga keterjangkauan produk. Dengan begitu, stabilitas harga tetap terjaga tanpa harus membebani daya beli masyarakat kelas bawah yang menjadi konsumen utama mereka.

“Keuntungan sekarang sangat tipis. Banyak pengusaha kecil yang kesulitan bertahan karena modal terus tergerus kenaikan harga kedelai,” kata dia.

Keluhan serupa juga disampaikan oleh Rohmat (57), seorang pemilik usaha tempe di kawasan Tanah Sareal. Ia mengungkapkan bahwa skema harga yang ditawarkan oleh pihak ketiga atau pengelola katering dirasa terlalu rendah, sehingga justru mencekik dan merugikan para pelaku usaha kecil seperti dirinya.

Rohmat membeberkan bahwa di tempat usahanya, produk tempe berkualitas yang normalnya dihargai Rp10.000 per potong kerap kali ditawar secara sepihak oleh pihak katering. Mereka sering kali meminta harga jatuh di kisaran Rp2.000 hingga Rp4.000 saja per potongnya.

"Itu sistemnya ke katering, tapi spek harganya merugikan pengrajin. Daripada rugi Rp2.000 per potong, kalau habis 100 potong sudah rugi Rp200 ribu, ngapain capek-capek produksi? Ya berat, saya tidak mau melayani," ucap Rohmat.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: