Rayakan Puncak Kaderisasi, PMII Rayon Tarbiyah UIN SMH Banten Gelar Tasyakuran Akbar Forum SAGARA
Forum SAGARA PMII Rayon Tarbiyah UIN SMH Banten sukses menggelar tasyakuran akbar.--
INFORADAR.ID – Momentum kelulusan fase kaderisasi awal menjadi babak yang paling dinantikan oleh setiap anggota organisasi pergerakan. Guna merayakan tuntasnya perjalanan panjang tersebut, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Rayon Tarbiyah Komisariat UIN Sultan Maulana Hasanuddin (SMH) Banten sukses menyelenggarakan kegiatan tasyakuran Forum SAGARA.
Acara yang berlangsung meriah namun sarat akan nilai kekeluargaan ini dilaksanakan pada hari Jumat, 22 Mei 2026, bertempat di Gedung PW GP Ansor Banten.
Perhelatan tahunan ini dihadiri oleh ratusan kader dan sahabat/i PMII dari berbagai wilayah se-lingkungan UIN SMH Banten, termasuk para alumni senior. Selain sebagai bentuk refleksi rasa syukur, tasyakuran kali ini didesain sebagai wadah apresiasi seni sekaligus ruang silaturahmi akbar untuk mempererat tali solidaritas antar-lintas generasi kepengurusan.
Ketua Rayon Tarbiyah PMII, Sahabati Tutu Alawiyah, menjelaskan bahwa kegiatan tasyakuran ini merupakan agenda rutin tahunan yang diselenggarakan pasca-selesainya rangkaian panjang kaderisasi formal tingkat pertama.
Menurutnya, esensi utama dari perhelatan Forum SAGARA ini pada dasarnya adalah wujud ekspresi kegembiraan serta pemenuhan self-reward bagi para anggota setelah berjuang melewati Masa Penerimaan Anggota Baru (MAPABA) hingga rangkaian Rencana Tindak Lanjut (RTL) tahap satu, dua, dan tiga.
"Kegiatan tasyakuran ini rutin dilakukan setahun sekali, dalam rangka euphoria saja sebenarnya, tasyakkur bi ni'mah setelah melewati tingkat kaderisasi pertama yaitu MAPABA beserta rangkaian-rangkaian setelahnya seperti RTL 1, RTL 2, dan RTL 3," ujar Tutu Alawiyah
Lebih lanjut, Tutu Alawiyah memaparkan bahwa proses persiapan yang memakan waktu berminggu-minggu secara tidak langsung telah membentuk ikatan emosional yang sangat kuat di internal organisasi. Kegiatan ini berhasil mengintegrasikan seluruh elemen, mulai dari peserta baru, jajaran kepanitiaan, hingga jajaran pengurus harian Rayon Tarbiyah.
"Momen tasyakuran ini sangat penting karena melibatkan seluruh kader PMII rayon tarbiyah baik peserta mapaba, panitia mapaba, serta pengurus PMII rayon tarbiyah. Sehingga tanpa disadari akan terbentuk jalinan kekeluargaan, solidaritas dan rasa sayang yang tinggi selama persiapan kegiatan, hari H tasyakuran-nya, bahkan setelah selesai-nya tasyakuran tersebut," tambah Tutu Alawiyah
Secara konsep, acara ini memadukan tradisi formal dan kultural kaum Nahdliyyin. Memasuki waktu siang hari, acara dibuka dengan prosesi pemotongan tumpeng yang dilanjutkan dengan sesi makan bersama saat jeda istirahat, shalat, dan makan (ishoma) ashar.
Sembari menunggu kedatangan para tamu undangan pada petang hari, lantunan hadroh dan pembacaan marhabanan digemakan bersama sebagai bentuk penegasan implementasi nilai-nilai keagamaan penganut Islam Ahlussunnah Wal Jama'ah.
Memasuki waktu setelah maghrib, suasana di lokasi acara semakin meriah dengan dimulainya sesi unjuk bakat penayangan pentas seni. Uniknya, seluruh pengisi acara yang tampil di atas panggung murni merupakan anggota internal organisasi yang sengaja meluangkan waktu untuk mengasah potensi non-akademik mereka.
Ketua KOPRI Tarbiyah, Sahabat Tubagus Hoiron Hakim, mengungkapkan rasa bangganya atas ragam penampilan yang disuguhkan, mulai dari seni tari, drama kolosal, hadroh, hingga pertunjukan seni bela diri pencak silat. Menurut Hoiron, proses latihan bersama dan koordinasi intensif itulah yang justru menjadi katalis utama dalam mempererat keakraban antar-anggota secara organik.
"Kami kemarin menyelenggarakan banyak sekali kegiatan, mulai dari pentas seni tari, drama kolosal, hadroh, hingga pencak silat. Yang membuat istimewa, semua itu yang tampil adalah anggota-anggota kami sendiri. Sehingga secara otomatis mereka berlatih bersama, berkoordinasi bersama, dan itulah yang justru paling mempererat hubungan," tutur Tubagus Hoiron Hakim
Hoiron juga tidak menampik bahwa kesuksesan Forum SAGARA ini menuntut pengorbanan yang besar, terutama dari sisi manajemen waktu. Ia menceritakan bagaimana seluruh panitia harus berjuang keras mengumpulkan anggota di tengah padatnya jadwal ujian perkuliahan serta kesibukan pribadi masing-masing kader demi bisa berlatih secara konsisten.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
