Merespon Realitas dengan Jujur dan Gila
Poster Bedah Buku Orang Gila Sebelum Menulis Esai-Istimewa-
Ulasan Buku Orang Gila Sebelum Menulis ESAI Karya Encep Abdullah Oleh Daru Pamungkas
INFORADAR.ID - Membaca buku kumpulan esai karya Encep Abdullah berjudul Orang Gila Sebelum Menulis Esai (#Komentar, Terbitan Mei 2026) ini, membuat saya terbawa pada kegilaan-kegilaan yang Encep suguhkan. Di buku ini, Encep membagi 7 tema esai yang ia tulis, mulai dari esai Pendidikan, Agama, Bahasa, Proses Kreatif, Tokoh, dan esai Apresiasi.
Di tema esai pendidikan, saya cukup dibuat mengenyitkan dahi oleh Encep. Bagaimana tidak? Sebagai seorang guru (masih atau tidaknya saya tidak tahu-red), Encep begitu jujur merespon berbagai realitas “gila” yang terjadi dalam kehidupan tenaga pendidik di negara ini.
Mulai dari kebijakan Sastra Masuk Kurikulum yang dinilai justru menambah beban baru bagi guru, karena harus pandai memilah buku sastra yang cocok untuk peserta didik (dalam hal ini tidak mengandung unsur pornografi), sampai pada kemirisan hidup seorang guru honorer yang kerja serius, tapi gajinya main-main.
Kalau Andika Kangen Band pernah menyindir lewat lagunya dengan mengganti lirik menjadi gaji tiga juta emang cukup buat apa?, guru honorer seperti yang ditulis Encep, bergaji sebulan tiga ratus ribu, itu sudah bukan lagi pertanyaan cukup buat apa, tapi berubah menjadi pernyataan, lama-lama bisa gila beneran ini guru honorer.
Namun satu hal yang menarik dari gagasan-gagasan Encep ialah, ia tidak hanya menyuguhkan keluh kesah dari realitas yang terjadi, namun sebagai penulis, Encep juga mempu membuka ruang berpikir bagi pembaca dalam menyikapi berbagai persoalan. Ia dengan gaya bahasa yang ringan, sederhana dan mudah dimengerti, mengajak pembaca untuk melihat realitas dari sudut pandang yang jauh lebih luas.
Hal ini juga Encep ungkapkan dalam esai agama dengan judul Tradisi NU Itu Candu, ia yang merupakan seorang Muhammadiyah taat, ternyata di fase kehidupannya mengalami ketertarikan mendalam tentang tradisi NU, yang baginya, memiliki rasa candu yang begitu menggairahkan. Sampai-sampai ia mencari dan membaca dengan serius buku-buku tentang pendiri NU KH Hasyim Asy’ari.
“Sesuatu yang tak kalah penting dari segala jasa beliau (KH Hasyim Asy’ari) untuk bangsa ini adalah maklumat ”Resolusi Jihad” yang dicetuskan pada 22 Oktober 1945. Apa yang sedang saya dan teman-teman komunitas saya lakukan—menulis dan membaca—juga bagian dari itu: jihad literasi,” tulis Encep. Hal ini menunjukkan bahwa, kendati Encep merupakan seorang Muhammadiyah, ia tidak hanya mempelajari tradisi NU, tetapi juga mengaplikasikan konsep pendiri NU dalam keseharian.
Semakin banyak membuka lembaran-lembaran esai di buku ini, saya semakin dibuat tergelitik dengan realitas-realitas gila yang mungkin bagian sebagian orang hanya angin lalu, tapi bagi Encep, itu adalah keresahan, yang kemudian difermentasi menjadi gagasan kritis yang menyegarkan pemikiran pembaca.
Ya, itulah Encep, guru yang menulis dengan jujur dan gila!
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
