Fenomena 'Quitting Culture': Gen Z Lebih Pilih Bahagia daripada Gaji Besar tapi Burnout
Quitting culture gen z-Pinterest/marcela-
INFORADAR.ID- Dunia kerja hari ini sedang dihebohkan dengan pergeseran prioritas tenaga kerja muda.
Laporan terbaru menunjukkan peningkatan angka pengunduran diri di kalangan Gen Z yang merasa nilai-nilai pribadi mereka tidak sejalan dengan perusahaan.
Bagi generasi ini, gaji besar bukan lagi magnet utama jika harus dibayar dengan kesehatan mental yang berantakan.
Mereka kini lebih mencari pekerjaan yang menawarkan fleksibilitas waktu, budaya kerja yang inklusif, dan misi sosial yang nyata.
BACA JUGA:Monday Blues Parah? 3 Langkah Mudah Menata Kembali Fokus Kerja Setelah Libur Panjang
BACA JUGA:Tips Simpel Detox Tubuh Pasca-Lebaran Ala Gen Z yang Bisa Kamu Coba
Istilah "bekerja untuk hidup, bukan hidup untuk bekerja" benar-benar menjadi prinsip yang mereka pegang teguh.
Fenomena ini, yang dikenal sebagai "Quitting Culture", menunjukkan bahwa Gen Z lebih berani meninggalkan pekerjaan yang tidak seimbang dengan kehidupan pribadi.
Mereka tidak ragu untuk mencari peluang baru yang lebih mendukung keseimbangan hidup, bahkan jika itu berarti mengambil gaji yang lebih rendah.
Perilaku ini didorong oleh kesadaran akan pentingnya kesehatan mental dan kebutuhan untuk memiliki waktu berkualitas dengan keluarga dan diri sendiri.
BACA JUGA:Mood Menurun Setelah Libur Lebaran? Ini Cara Mengatasinya
BACA JUGA:5 Pohon untuk Taman Minimalis, Halaman Kecil Tapi Tetap Estetik
Perusahaan-perusahaan mulai menyadari perubahan ini dan mulai menyesuaikan kebijakan kerja mereka.
Beberapa di antaranya menawarkan work-from-home, jam kerja fleksibel, dan program kesehatan mental untuk menarik dan mempertahankan talenta muda.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
