Fenomena Cancel Culture dan Cringe Culture di kalangan Gen Z
Fenomena cancel culture-Pinterest/Gigazine-
INFORADAR.ID - Fenomena cancel culture dan ketakutan dianggap “cringe” atau memalukan menjadi dua dinamika yang membentuk perilaku sosial Generasi Z di era digital. Di tengah kehidupan yang serba terdokumentasi dan terbuka, Gen Z dituntut untuk selalu tampil “aman” agar terhindar dari penilaian publik.
Sebagai generasi yang tumbuh bersama media sosial, Generasi Z memiliki kesadaran tinggi bahwa setiap unggahan, opini, maupun perilaku dapat dengan mudah disebarluaskan dan dihakimi. Kondisi ini memicu munculnya self-censorship atau penyensoran diri, di mana individu cenderung menahan ekspresi untuk menghindari kritik.
Cancel culture sendiri mengalami pergeseran makna. Jika sebelumnya dikenal sebagai bentuk boikot, kini berkembang menjadi sarana penegakan norma sosial dan akuntabilitas digital. Tindakan yang dilakukan pun beragam, mulai dari unfollow massal, pemboikotan produk atau konten, hingga penggunaan meme untuk mempermalukan individu yang dianggap melanggar norma.
Di sisi lain, muncul pula fenomena cringe culture, yaitu budaya yang menjadikan perilaku canggung, terlalu antusias, atau dianggap berlebihan sebagai bahan ejekan. Banyak Generasi Z memilih bersikap datar atau sinis sebagai mekanisme perlindungan diri dari penilaian negatif, agar tidak berdampak pada kehidupan nyata.
Ketakutan dianggap “cringe” membuat sebagian individu enggan menunjukkan ambisi, berinisiatif, atau mengambil peran kepemimpinan. Bahkan, dalam interaksi sosial sederhana seperti basa-basi, muncul kecanggungan yang dipicu oleh kecemasan akan penilaian orang lain.
BACA JUGA:April Mop atau Fakta? 5 Berita Viral Hari Ini yang Harus Kamu Cek Ulang Sebelum Di-Share!
BACA JUGA:Lagu Risk It All Jadi Backsound Konten Bucin di Media Sosial, Ini Makna dan Alasan Viral
Rizki Aulia Putri, mahasiswi PGSD UT Serang, menilai bahwa cancel culture sering kali menjadi bentuk penilaian yang terburu-buru. “Kalau menurut saya, cancel culture itu kayak bentuk penilaian cepat dari publik di media sosial. Jadi ketika ada seseorang yang dianggap salah, langsung banyak orang yang menjatuhkan tanpa benar-benar tahu keseluruhan ceritanya,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa fenomena ini dapat berdampak pada kepercayaan diri generasi muda. “Kalau dari sudut pandang saya, ini cukup mengkhawatirkan sih. Karena kalau kebiasaan takut dinilai ini terus dibawa, bisa bikin seseorang jadi kurang percaya diri sejak dini,” tambahnya.
Senada dengan itu, Nadia Rahma, mahasiswi Ilmu Hukum UNTIRTA, menyebut cancel culture sebagai bentuk hukuman sosial di ruang digital. “Kalau menurut saya, cancel culture itu kayak bentuk hukuman sosial di dunia digital. Jadi ketika seseorang dianggap salah atau nggak sesuai norma tertentu, dia bisa langsung dikritik ramai-ramai, bahkan sampai dijauhi,” jelasnya.
Menurut Nadia, tekanan sosial tersebut membuat banyak orang tidak lagi menjadi diri sendiri. “Orang cenderung ikut standar yang lagi diterima aja, biar nggak kena komentar negatif. Padahal itu bisa bikin capek secara mental juga karena terus menjaga image,” ungkapnya.
Meski demikian, ia menekankan pentingnya membangun kesadaran diri dan sikap bijak dalam bermedia sosial. “Mungkin mulai dari diri sendiri dulu, lebih bijak sebelum nge-judge orang lain, dan juga lebih percaya diri buat jadi diri sendiri. Saya juga lagi belajar buat nggak terlalu takut dibilang cringe,” tutupnya.
BACA JUGA:Gen Z Belum 30 Tahun, Tapi Sudah Melewati Empat Krisis Besar Dunia
BACA JUGA:4 Ciri Kepribadian Orang yang Lebih Banyak Mendengarkan daripada Berbicara
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
