La Niña Usai, BMKG Prediksi Musim Kemarau 2026 Datang Lebih Awal di Indonesia
Kemarau panjang mengakibatkan tanah retak-Pinterest-
INFORADAR.ID - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau tahun 2026 di Indonesia akan datang lebih awal dibandingkan dengan kondisi normal. Prediksi ini disampaikan berdasarkan hasil analisis dinamika iklim global dan regional yang memengaruhi pola cuaca di wilayah Indonesia.
BMKG menyebutkan bahwa sekitar 325 zona musim (ZOM) atau sekitar 46,5 persen wilayah Indonesia diperkirakan akan memasuki musim kemarau lebih cepat dari biasanya. Sementara itu, sekitar 24,7 persen wilayah diprediksi mengalami kemarau normal, dan sekitar 10,3 persen wilayah lainnya berpotensi mengalami kemarau yang datang lebih lambat dari rata-rata klimatologis.
Secara umum, awal musim kemarau di sebagian besar wilayah Indonesia diperkirakan mulai terjadi pada April hingga Mei 2026. Wilayah yang diprediksi lebih dulu memasuki musim kemarau antara lain sebagian wilayah Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara, serta beberapa wilayah di Sumatra dan Kalimantan.
BMKG juga memperkirakan puncak musim kemarau 2026 akan terjadi pada Agustus, yang mencakup sekitar 61,4 persen wilayah Indonesia. Namun, beberapa daerah diprediksi mencapai puncak kemarau lebih awal pada Juli atau sedikit lebih lambat pada September, tergantung kondisi iklim di masing-masing wilayah.
Selain datang lebih awal, musim kemarau tahun ini juga diperkirakan memiliki intensitas yang cenderung lebih kering di sejumlah wilayah. Kondisi ini dapat meningkatkan potensi kekeringan, terutama di daerah yang memiliki cadangan air terbatas. Oleh karena itu, sektor yang paling terdampak diperkirakan adalah pertanian, ketersediaan air bersih, serta potensi kebakaran hutan dan lahan.
Menurut BMKG, perubahan pola musim ini dipengaruhi oleh dinamika iklim global, termasuk melemahnya fenomena La Niña yang sebelumnya memicu peningkatan curah hujan di Indonesia. Setelah fenomena tersebut mereda, kondisi iklim diperkirakan beralih menuju fase netral dan berpotensi dipengaruhi oleh El Niño pada pertengahan tahun, yang biasanya berkaitan dengan berkurangnya curah hujan di beberapa wilayah.
BMKG mengimbau masyarakat dan pemerintah daerah untuk mulai melakukan langkah antisipasi menghadapi musim kemarau lebih awal. Beberapa langkah yang disarankan antara lain pengelolaan sumber daya air secara efisien, penyesuaian jadwal tanam di sektor pertanian, serta peningkatan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan.
Dengan adanya prediksi ini, diharapkan berbagai pihak dapat mempersiapkan langkah mitigasi sejak dini agar dampak musim kemarau yang datang lebih awal pada 2026 dapat diminimalkan.
Yuni Marsita, Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Mathla'ul Anwar
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
