Disway Award

Tikaman Halus di Balik Tawa: Saat Kepercayaan Menjadi Senjata Paling Tajam

Tikaman Halus di Balik Tawa: Saat Kepercayaan Menjadi Senjata Paling Tajam

Tikaman Halus di Balik Tawa: Saat Kepercayaan Menjadi Senjata Paling Tajam--

INFORADAR.ID - Pernahkah kamu merasa merinding justru saat sedang dikelilingi orang-orang terdekat? Ada insting yang sesekali berbisik bahwa kehangatan di meja makan atau obrolan santai di kafe hanyalah panggung sandiwara. Sosok "musuh dalam selimut" itu nyata, dan uniknya, mereka tidak datang dengan wajah sangar. Mereka hadir lewat pelukan paling erat, pujian paling manis, dan telinga yang paling setia mendengar rahasiamu. Ironisnya, semakin banyak yang mereka tahu tentangmu, semakin presisi pula mereka memahami di mana letak titik lemahmu untuk dihancurkan.

Dikhianati oleh orang asing itu biasa, tapi ditikam oleh orang yang memegang kunci pintu rumahmu sendiri? Itu adalah luka yang levelnya berbeda. Proses pengkhianatan ini biasanya terjadi sangat pelan, nyaris tanpa suara. Mereka tidak langsung menyerang, melainkan mengumpulkan kepingan informasi untuk dijadikan peluru di kemudian hari. Kita sering kali terlalu sibuk mewaspadai musuh yang terang-terangan membenci kita, sampai lupa bahwa sosok yang paling berbahaya adalah dia yang paling sering kita ajak tertawa bersama.

Memang terdengar sedikit paranoid, tapi ini bukan soal menjadi antisosial, melainkan tentang memilah siapa yang layak masuk ke "ruang privasi" batinmu. Kita sering kali terlalu murah hati membagikan kerentanan hanya karena merasa sudah mengenal seseorang dalam waktu lama. Padahal, durasi perkenalan bukanlah jaminan karakter seseorang. Belajar dari realita di sekitar kita, musuh paling mematikan bukanlah mereka yang berdiri di seberang medan perang, melainkan mereka yang berdiri tepat di sampingmu sambil menyembunyikan belati di balik punggungnya.

Menjaga Batas Tanpa Harus Membangun Tembok

Pada akhirnya, intuisi adalah sahabat terbaik yang sering kita abaikan. Jika ada sesuatu yang terasa ganjil, jangan buru-buru menepisnya hanya dengan alasan "dia kan teman lama". Menjaga jarak secukupnya bukan berarti kamu jahat; itu adalah bentuk pertahanan diri yang paling dasar. Tidak semua orang memiliki hak untuk mengetahui isi kepalamu secara utuh. Tetaplah ramah dan berbagi tawa, namun pastikan hanya tangan-tangan yang tulus yang boleh menyentuh bagian paling rapuh dari hidupmu. Jangan sampai selimut yang seharusnya menghangatkan, justru menjadi jerat bagi kepercayaanmu sendiri.

Andrea Kesya Tindas Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Mathla'ul Anwar Banten

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: