Disway Award

Tenggelamnya Kapal Van der Wijck: Cinta yang Kalah oleh Adat

Tenggelamnya Kapal Van der Wijck: Cinta yang Kalah oleh Adat

film vender wijck --

INFORADAR.ID - Film Tenggelamnya Kapal Van der Wijck bukan sekadar kisah cinta yang berakhir tragis. Ia adalah potret luka sosial, benturan antara perasaan manusia dengan adat yang kaku, serta kritik halus terhadap sistem yang menilai seseorang bukan dari akhlak dan cinta, melainkan dari garis keturunan.

Zainuddin dan Hayati dipertemukan oleh rasa, namun dipisahka oleh adat. Zainuddin, yang tidak memiliki garis keturunan Minangkabau yang “murni”, dipandang rendah dan dianggap tidak pantas mencintai Hayati.

Dalam masyarakat yang menjunjung tinggi adat dan status, cinta menjadi sesuatu yang harus tunduk—bahkan dikorbankan.

Film ini dengan kuat menunjukkan bagaimana adat, ketika kehilangan sisi kemanusiaannya, dapat berubah menjadi alat penindasan. Zainuddin bukan ditolak karena kesalahan moral, melainkan karena identitas.

Ia dihukum oleh sistem sosial yang menutup pintu bagi mereka yang “tidak berasal dari golongan yang sama”. Di sinilah tragedi dimulai.

Hayati pun bukan tanpa luka. Ia terjebak dalam ketaatan pada adat dan tekanan keluarga. Pernikahannya dengan Aziz bukanlah pilihan hati, melainkan hasil kompromi terhadap norma sosial.

Film ini menggambarkan bagaimana perempuan sering kali menjadi korban paling sunyi—tidak sepenuhnya berdaulat atas hidup dan cintanya sendiri.

Kapal Van der Wijck yang tenggelam menjadi simbol yang sangat kuat. Ia bukan hanya kecelakaan laut, melainkan lambang dari harapan, cinta, dan kehidupan yang runtuh karena kesalahan manusia—kesombongan, ego, dan ketidakadilan sosial.

Tragedi itu seakan menegaskan bahwa ketika nurani ditenggelamkan oleh adat yang membatu, maka kehancuran hanyala soal waktu.

Melalui sinematografi yang indah dan alur yang emosional, film ini mengajak penonton merenung: apakah adat diciptakan untu menjaga manusia, atau justru untuk mengorbankannya? Apakah tradisi masih bermakna jika ia melukai rasa keadilan dan kemanusiaan?

Tenggelamnya Kapal Van der Wijck mengajarkan bahwa cinta seharusnya memanusiakan, bukan diadili oleh status. Bahwa adat perlu dijaga, tetapi juga harus mampu beradaptasi dengan nilai keadilan dan kasih sayang. Sebab ketika aturan lebih tinggi dari kemanusiaan, maka yang tenggelam bukan hanya kapal—melainkan hati dan masa depan manusia.

 

Fikri Habib Hassar Maldya Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Mathla’ul Anwar

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: