Ijazah Presiden VII dan Kewarasan Publik: Mengakhiri Polemik, Mengembalikan Fokus Negara
Potret Ahmad Sihabudin--
Oleh: Ahmad Sihabudi, Dosen Ilmu Komunikasi Untirta
INFORADAR.ID- Polemik mengenai ijazah Presiden VII Republik Indonesia tampaknya telah bergerak jauh melampaui substansi hukum yang semestinya.
Alih-alih menjadi perkara yang ditangani secara tertib melalui mekanisme peradilan, isu ini justru bertransformasi menjadi tontonan bertele-tele yang menyedot energi publik, institusi penegak hukum, dan media.
Terbaru, gelar perkara khusus telah dilaksanakan. Namun, alih-alih meredakan kegaduhan, proses ini justru memantik babak baru kebisingan yang berulang: pernyataan, bantahan, tudingan, dan narasi yang terus diproduksi oleh para pihak yang telah berstatus tersangka.
Dalam konteks negara hukum, pertanyaan mendasarnya sederhana: apa lagi yang sebenarnya diinginkan? Bukankah setelah serangkaian klarifikasi, pemeriksaan, dan gelar perkara, langkah paling rasional adalah menyerahkan berkas perkara dari kepolisian ke kejaksaan, lalu membiarkan pengadilan memutuskan? Proses itu bukan hanya prosedural, melainkan juga etis, karena di situlah kebenaran diuji secara sah, bukan di panggung wacana yang gaduh dan tak berkesudahan.
BACA JUGA:4 Tips Liburan Akhir Tahun di Musim Hujan, Tetap Nyaman dan Seru dengan Strategi Ini
BACA JUGA:7 Tips Mengelola Bonus Akhir Tahun, Atur Keuangan dengan Bijak
Dari Isu Hukum Menjadi Spektakel Publik
Setiap perkara hukum memiliki batas kewajaran dalam ruang publik. Transparansi memang penting, tetapi transparansi yang berlebihan, tanpa arah dan kepastian, justru berpotensi merusak kepercayaan.
Polemik ijazah Presiden VII telah bergerak dari wilayah klarifikasi administratif ke wilayah spekulasi politik dan sensasi media.
Perdebatan tidak lagi berkisar pada pembuktian hukum, melainkan pada adu narasi dan penciptaan keraguan berulang.
Di titik ini, isu tersebut lebih menyerupai spektakel ketimbang proses penegakan hukum.
Nama-nama yang sama terus muncul, pernyataan yang sama diulang, dan insinuasi yang serupa diproduksi kembali.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
