Disway Award

Pemuda Ini Bagikan Susahnya Jadi Petani di Indonesia, Curhat di Medsos Ungkap Realita Pahit di Lapangan

Pemuda Ini Bagikan Susahnya Jadi Petani di Indonesia, Curhat di Medsos Ungkap Realita Pahit di Lapangan

Lulusan Pertanian bagikan realita susahnya jadi petani di Indonesia-@khanifirsyad-X

INFORADAR.ID – Menjadi petani di Indonesia bukanlah pilihan yang mudah, terutama bagi generasi muda. 

Hal ini diungkapkan oleh Khanif Irsyad melalui akun Twitter/X miliknya, @khanifirsyad. 

Sebagai sarjana pertanian yang kini terjun langsung ke dunia pertanian, ia mencurahkan isi hati tentang kerasnya perjuangan di lapangan.

Dalam cuitannya, Khanif menyoroti betapa rumit dan beratnya jalan yang harus ditempuh oleh petani di Indonesia, mulai dari persoalan modal yang besar, fluktuasi harga panen, hingga ketidakpastian iklim. 

Menurutnya, apa yang diajarkan di bangku kuliah belum tentu cukup untuk menghadapi tantangan nyata di dunia pertanian

“Ilmu dari bangku kuliah seharusnya cukup jadi bekal. Tapi kenyataannya, menjadi petani di Indonesia bukan sekadar soal menanam dan memanen,” tulisnya. Pekerjaan ini menuntut ketahanan mental, fisik kuat, modal yang besar, dan kemampuan adaptasi tingkat tinggi.” tulisnya.

Dalam postingannya yang panjang, Khanif membeberkan berbagai tantangan nyata yang dihadapi petani setiap harinya.

BACA JUGA:Provinsi Banten Mulai Berlakukan Pemutihan Pajak Kendaraan, Simak Syaratnya di Sini

BACA JUGA:Manfaat Kulit Semangka Dapat Dijadikan Skincare Homemade, Begini Caranya

Biaya produksi dan harga panen nggak menentu 

Mulai dari biaya produksi yang tinggi, ketidakpastian harga panen, minimnya dukungan pemerintah, penyusutan lahan pertanian, hingga dampak perubahan iklim.

“Bertani butuh modal besar. Bayar buruh harian bisa Rp100 ribu/hari. Itu belum pupuk, pestisida, hingga sewa lahan. Kalau panen gagal, rugi besar,” ujarnya.

Ia juga menyoroti betapa distribusi hasil pertanian belum berpihak pada petani. “Kalau panen raya, harga jatuh. Kalau panen sedikit, justru yang untung besar malah tengkulak dan pedagang. Bukan hanya soal tengkulak, tapi ini tentang tata kelola agribisnis.”

Minim dukungan pemerintah dan perubahan iklim

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: